Laporan sifat kimia dan ekstraksi kemasan

Laporan sifat kimia dan ekstraksi kemasan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengemasan Pangan Program keahlian supervisor Jaminan Mutu Pangan di diploma IPB.

 

 

Laporan Praktikum                                                                               Dosen   : Dwi Yuni Hastati, STP DEA

Pengemasan Pangan                                                                             Asisten : Alfredo R. K. P, Amd

 

SIFAT KIMIA DAN EKSTRAKSI BAHAN PENGEMAS

Kelompok 4 / BP2

Aini Dian Pratiwi                    J3E113063

Ika Amaliani                           J3E113036

Jafar Sidik                               J3E113047

 

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN

PROGRAM DIPLOMA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2014

 

PENDAHULAN

  • Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari pangan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Seiring dengan perkembangan teknologi, produk pangan pun mengalami perkembangan antara lain dari segi teknik pengolahan, pengawetan, pengemasan dan distribusinya. Hal tersebut memungkinkan suatu produk pangan yang dihasilkan di suatu tempat dapat diperoleh ditempat lain. Kebanyakan produk pangan yang ada di pasaran telah dikemas sedemikian rupa sehingga mempermudah konsumen untuk mengenali serta membawanya. Secara umum kemasan pangan merupakan bahan yang digunakan untuk mewadahi atau membungkus pangan baik yang besentuhan langsung maupun tidak langsung dengan pangan. Selain untuk mewadahi atau membungkus pangan, kemasan pangan juga mempunyai berbagai fungsi lain diantaranya untuk menjaga pangan tetap bersih serta mencegah terjadinya kontaminasi organism, menjaga pangan dari kerusakan fisik, menjaga produk dari kerusakan kimiawi, mempermudah pengangkutan dan distribusi.

Penggunaan plastik sebagai pengemas pangan terutama karena keunggulannya dalam hal bentuknya fleksibel sehingga mudah mengikuti bahan pangan yang dikemas, berbobot ringan, tidak mudah pecah, bersifat transparan atau tembus pandang, mudah diberi label dan dibuat dalam aneka warna, dapat diproduksi secara masal, harga relative murah dan terdapat berbagai jenis pilihan bahan dasar plastik. Walaupun plastik memiliki banyak keunggulan terdapat juga kelemahan plastik bila digunakan sebagai kemasan pangan yaitu jenis tertentu misalnya PE, PP, PVC tidak tahan panas, berpotensi melepaskan migrant berbahaya yang berasal dari sisa monomer dari polimer dan plastik merupakan bahan yang sulit terurai sehingga dapat mencemari lingkungan.

 

  • Tujuan

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengenal sifat-sifat kelarutan masing-masing bahan pangan pengemas terhadap bahan kimia.

 

METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan

Pada praktikum kali ini alat yang digunakan adalah gunting, label, karet, gelas, tabung, penggaris, dan neraca digital. Bahan yang digunakan adalah plastik PP, PE, Selophan, Aluminium Foil, alcohol, larutan NaOH 10%, larutan minyak, larutan sabun, larutan asam sitrat 10%, dan larutan H2O2.

 

2.2 Metode  

sifat kimia dan ekstraksi kemasan

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

  • Hasil

Tabel 1. Massa Plastik di hari ke-0 dan hari ke-2

Kelompok Minyak NaOH Sabun Asam Sitrat H2O2
B. awal (g) B.akhir (g) B. awal (g) B.akhir (g) B. awal (g) B.akhir (g) B. awal (g) B.akhir (g) B. awal (g) B.akhir (g)
1 PP 0.0484 0.0505 0.0465 0.0494 0.0493 0.0528 0.0501 0.0516 0.0416 0.0472
2 PP 0.0428 0.0470 0.0497 0.0501 0.0463 0.0437 0.0476 0.0474 0.0478 0.0492
3 PE 0.0215 0.0254 0.0207 0.0238 0.0193 0.0198 0.0195 0.0234 0.0198 0.0308
4 PE 0.0178 0.0128 0.0197 0.0197 0.0177 0.0181 0.0198 0.0198 0.0188 0.2020
5 PVC 0.0476 0.0489 0.0527 0.0531 0.0492 0.0492 0.0452 0.0457 0.0491 0.0493
6 PVC 0.0466 0.0482 0.0471 0.0480 0.0474 0.0479 0.0491 0.0496 0.0480 0.0486
7 Selopan 0.0079 0.0096 0.0073 0.0110 0.0086 0.0105 0.0071 0.0086 0.0069 0.0098
8 Selopan 0.0102 0.0193 0.0117 0.0248 0.0103 0.0114 0.0100 0.0046 0.0081 0.0098
9 Alufo 0.0222 0.2600 0.0191 0.0000 0.0196 0.0244 0.0209 0.0236 0.0205 0.0284
10 Alufo 0.0223 0.0229 0.0206 0.1000 0.0206 0.0215 0.0214 0.0267 0.0212 0.0249

 

 

Tabel 2. Rata-rata Massa Plastik di hari ke-0 dan hari ke-2

Jenis Plastik Minyak NaOH Sabun Asam Sitrat H2O2
B. awal (g) B.akhir (g) B. awal (g) B.akhir (g) B. awal (g) B.akhir (g) B. awal (g) B. Akhir (g) B. awal (g) B. akhir (g)
PP 0.0456 0.0488 0.0481 0.0498 0.0478 0.0483 0.0489 0.0495 0.0447 0.0482
PE 0.0197 0.0191 0.0202 0.0218 0.0185 0.0190 0.0197 0.0216 0.0193 0.1164
PVC 0.0471 0.0486 0.0499 0.0506 0.0483 0.0486 0.0472 0.0477 0.0486 0.0490
Selopan 0.0091 0.0145 0.0095 0.0179 0.0095 0.0110 0.0086 0.0066 0.0075 0.0098
Alufo 0.0223 0.1415 0.0199 0.0500 0.0201 0.0230 0.0212 0.0252 0.0209 0.0267

Ket: Bold italic berarti Turun

 

  • Pembahasan

Sifat plastik adalah kuat, ringan, tidak berkarat, bersifat termoplastis (direkatkan melalui panas), dapat diberi label atau cetakan dengan berbagai kreasi, mudah diubah bentuknya, dan dapat digunakan dalam bentuk tunggal komposit atau multilapis dengan hampir semua jenis bahan lain seperti karton, kertas, plastik dan lainnya yang disebut sebagai proses laminasi. (Herudiyanto,M.S. 2008).

Pada praktikum ini, dilakukan uji sifat kimia dan ekstraksi bahan kemasan. Pengujian dilakukan dengan bahan kemasan plastik yang dicelupkan ke dalam berbagai jenis larutan. Bahan kemasan plastik yang digunakan adalah PP, PE, PVC, Selofan dan Alumuium foil. Larutan yang digunakan adalah minyak, H2O2, asam sitrat, NaOH, dan larutan sabun. Setiap sampel plastik ditimbang sebanyak 2 kali ulangan, kemudian dicelupkan ke dalam masing-masing larutan. Setelah itu, dilakukan pengamatan dengan pada hari ke 2. Amati perubahan berat setiap sampel plastik. Pengujian sampel dengan menggunakan kelima larutan ini karena mewakili beberapa jenis senyawa kimia pada bahan pangan yang sering berhubungan dengan kemasan plastik pada saat pengemasan, yaitu sabun yang merupakan pelarut organik, asam sitrat yang bersifat asam, NaOH yang bersifat basa, H2O2 yang bersifat atau berperan sebagai oksidator, serta minyak yang bersifat berlemak. Adannya perubahan pada berat seperti penurunan atau kenaikkan berat yang terjadi dapat menunjukkan tingkat kelarutan kemasan plastik terhadap berbagai senyawa kimia atau dapat meresapnnya suatu larutan ke dalam suatu kemasan plastik.

 

3.2.1 Polyprophilen (PP)

Dari hasil pengamatan, plastik PP yang direndam dalam larutan minyak mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0456 gram menjadi 0.0488 gram pada hari ke-2. Plastik PP yang direndam dalam larutan NaOH mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0481 gram menjadi 0.0498 gram pada hari ke-2. Plastik PP yang direndam dalam larutan sabun mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0478 gram menjadi 0.0483 gram pada hari ke-2. Plastik PP yang direndam dalam larutan Asam Sitrat mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0489 gram menjadi 0.0495 gram pada hari ke-2. Plastik PP yang direndam dalam larutan H2O2 mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0447 gram menjadi 0.0482 gram pada hari ke-2. Berdasarkan hasil pengamatan, dapat terlihat bahwa PP mengalami kelarutan dan penambahan berat pada senyawa minyak, H2O2, asam sitrat, NaOH, dan sabun sehingga dapat dikatakan stabil dan memiliki ketahanan yang cukup baik. Hasil ini tidak sesuai dengan literatur yang mengatakan bahwa PP memiliki ketahanan oksidasi yang rendah.

Secara umum sifat-sifat polipropilen hambir sama dengan polietilene. Masa jenisnya rendah (0,90-0,92). Termasuk kelompok yang paling ringan diantara bahan polimer. Dapat terbakar kalau dinyalakan. Dibandingkan dengan polietilen masa jenis tinggi titik lunaknya tinggi sekali (170 ºC), kekuatan tarik, kekuatan lentur dan kekakuannya lebih tinggi, tetapi ketahanan impaknya rendah terutama pada temperatur rendah. Sifat tembus cahayanya pada pencetakan lebih baik dari pada polietilen dengan permukaan yang mengkilap, penyusutannya pada pencetakan kecil, penampilan dan ketelitian dimensinya lebih baik. Ketahanan kimianya kira-kira sama bahkan lebih baik dari pada polietilen masa jenis tinggi. Molekul polipropilen mengandung atom karbon tertier dengan gugus metilrantai utama. Atom hidrogen terikat pada atom karbon tertier yang mudah bereaksi dengan oksigen dan ozon yang menyebabkan ketahanan oksidasinya lebih kecil dari pada polietilen. Dilain pihak karena temperatur pengolahan lebih tinggi daripada polietilen, oksidasi harus dicegah. Fenol alkil dipakai sebagai antioksidasi yang dikombinasikan dengan senyawa belerang organik atau senyawa amin (Suyitno, 1990).

3.2.2 Polyethilen (PE)

Dari hasil pengamatan, plastik PE yang direndam dalam larutan minyak mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0197 gram menjadi 0.0191 gram pada hari ke-2. Plastik PE yang direndam dalam larutan NaOH mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0202 gram menjadi 0.0218 gram pada hari ke-2. Plastik PE yang direndam dalam larutan sabun mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0185 gram menjadi 0.0190 gram pada hari ke-2. Plastik PE yang direndam dalam larutan Asam Sitrat mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0197 gram menjadi 0.0216 gram pada hari ke-2. Plastik PE yang direndam dalam larutan H2O2 mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0193 gram menjadi 0.1164 gram pada hari ke-2. Hal ini menandakan bahwa PE memiliki ketahanan nyang baik terhadap produk makanan yang bersifat asam, minyak maupun basa.

Menurut Syarief (1989), sifat-sifat baik yang dimiliki PE, antara lain :

  • permeabilitas uap air dan air rendah,
  • fleksibel,
  • dapat digunakan untuk penyimpanan beku (-50oC), dan
  • transparan sampai buram.

 

Selain itu, Syarief dan Halid (1989) juga menambahkan bahwa plastik polietilen (PE) juga memiliki sifat lain yaitu :

  • memiliki penampakan yang bermacammacam,
  • mudah dibentuk, lemas, dan mudah ditarik, 3) daya rentang tinggi tidak sobek,
  • mudah dikelim panas sehingga banyak digunakan untuk laminasi dengan bahan lain,
  • memiliki titik lebur pada suhu 120 ºC,
  • tidak cocok untuk mengemas produk yang berlemak dan berminyak,
  • tahan terhadap asam, basa, alkohol, diterjen, dan bahan kimia lainnya,
  • transmisi gas cukup tinggi sehingga tidak cocok untuk mengemas makanan beraroma, dan
  • dapat dicetak setelah mengoksidasi permukaannya. Berdasarkan densitasnya, Polietilen (PE) dibagi menjadi polietilen densitas rendah (LDPE), polietilen densitas menengah (MDPE), dan polietilen densitas tinggi (HDPE).

Baca juga Laporan viabilitas khamir

 

3.2.3 Polyphinyl Cloride (PVC)

Dari hasil pengamatan, plastik PVC yang direndam dalam larutan minyak mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0471 gram menjadi 0.0486 gram pada hari ke-2. Plastik PVC yang direndam dalam larutan NaOH mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0499 gram menjadi 0.0506 gram pada hari ke-2. Plastik PVC yang direndam dalam larutan sabun mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0483 gram menjadi 0.0486 gram pada hari ke-2. Plastik PVC yang direndam dalam larutan Asam Sitrat mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0472 gram menjadi 0.0477 gram pada hari ke-2. Plastik PVC yang direndam dalam larutan H2O2 mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0486 gram menjadi 0.0490 gram pada hari ke-2. Hal ini menandakan bahwa PVC memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap produk berminyak, asam maupun basa.

Menurut Buckle, 1985, PVC memiliki ketahanan terhadap bahan-bahan kimia yang berbeda, yaitu :

– terhadap lemak dan minyak              : sedang sampai baik

– terhadap asam                                   : baik

– terhadap basa                                    : baik

Berdasarkan hasil pengamatan plastik PVC dapat menyerap larutan pada larutan asam sirat, NaOH, H2O2, sabun dan minyak. PVC mengandung DEHA (di-2-etil-heksil-adipat) yang dapat bereaksi pada bahan pangan karena DEHA melumer pada suhu -150C sehingga dibatasi penggunaannya pada bahan pangan. Walaupun PVC kurang tahan terhadap asam pengoksida, namun bukan menunjukkan tidak tahan terhadap asam asetat. Walaupun tahan terhadap minyak dan lemak, namun penggunaan PVC pada bahan-bahan yang mengandung minyak dibatasi, hal ini dikarenakan minayk dapat melarutkan komponen-komponen plastik sehingga menjadi toksik. Menurut literatur apabila terjadi perubahan warna atau kekeruhan. Hal ini membuktikan bahwa larutan dapat mengubah bentuk struktur dari plastik, dilihat dari bentuk molekul plastik yang bercabang atau linier. (Bierley, 1988)

3.2.4 Selofan

Pada praktikum ini, dilakukan uji sifat kimia dan ekstraksi bahan kemasan. Pengujian dilakukan dengan bahan kemasan plastik yang dicelupkan ke dalam larutan kimia. Salah satu plastik yang digunakan adalah selofan. Selofan adalah cellulose film yang dibuat dari pulp. Alkali cellulose direaksikan dengan carbon disulfide dan dilarutkan dalam caustic soda untuk mendapatkan viscose, dan kemudian melalui beberapa proses didapatkan selofan film. Film bisa digunakan dalam bentuk plastik ataupun dicoated dengan berbagai macam bahan untuk mendapatkan beberapa sifat yang diperoleh untuk aplikasi tertentu (Bachriansyah, 1997). Selofan bisa melangsungkan sinar UV, oleh sebab itu untuk UV sensitif produk, menggunakan selofan yang berwarna. Selofan mempunyai sealing range yang lebar (Syarief R, 1989).

Dari hasil pengamatan, plastik selofan yang direndam dalam larutan minyak mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0091 gram menjadi 0.0145 gram pada hari ke-2. Plastik selofan yang direndam dalam larutan NaOH mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0095 gram menjadi 0.0179 gram pada hari ke-2. Plastik selofan yang direndam dalam larutan sabun mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0095 gram menjadi 0.0110 gram pada hari ke-2. Plastik selofan yang direndam dalam larutan Asam Sitrat mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0086 gram menjadi 0.0066 gram pada hari ke-2. Plastik selofan yang direndam dalam larutan H2O2 mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0075 gram menjadi 0.0098 gram pada hari ke-2. Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa plastik selofan memiliki peningkatan berat saat disimpan di dalam minyak, NaOH, sabun dan H2O2. Sedangkan, saat direndam di asam sitrat, selofan mengalami penurunan berat. Hal ini meandakan bahwa selofan tidak tahan terhadap produk pangan yang memiliki karakteristik asam.

 

3.2.5 Alumunium foil

Dari hasil pengamatan, plastik alumunium foil yang direndam dalam larutan minyak mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0223 gram menjadi 0.0145 gram pada hari ke-2. Plastik alumunium foil yang direndam dalam larutan NaOH mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0099 gram menjadi 0.0500 gram pada hari ke-2. Plastik alumunium foil yang direndam dalam larutan sabun mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0201 gram menjadi 0.0230 gram pada hari ke-2. Plastik alumunium foil yang direndam dalam larutan Asam Sitrat mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0212 gram menjadi 0.0252 gram pada hari ke-2. Plastik alumunium foil yang direndam dalam larutan H2O2 mengalami perubahan berat dari hari ke 0, yaitu 0.0209 gram menjadi 0.0267 gram pada hari ke-2. Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa alumunium foil memiliki ketahanan yang baik terhadap produk berkarakteristik berminyak, asam, maupun basa. Namun, menurut Astawan, (2008) meskipun dapat menahan lemak, ketahanannya terhadap asam dan basa masih kurang, sehingga memerlukan tambahan lapisan dari lilin atau lapisan kimia lain.

 

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan pengujian, dapat disimpulkan bahwa     PVC, PP, dan alumunium foil memiliki barier yang baik terhadap produk pangan berkarakteristik berminyak, asam maupun basa. Plastik PE tidak tahan produk pangan yag memiliki karakteristik asam, namun PE tahan minyak dan basa. Plastik selofan tidak tahan produk pangan yang memiliki karakteristik asam, namun selofan tahan minyak dan basa.

 

4.2 Saran

Sebelum membungkus produk pangan, sebaiknya harus mengetahui sifat-sifat yang dimiliki oleh bahan pengemas yang akan digunakan terlebih dahulu. Pemilihan jenis kemasan yang digunakan harus dapat mencegah perpindahan komponen agar produk yang dikemas lebih tahan lama dan mutunya tetap terjaga serta aman dan tidak berbahaya untuk dikonsumsi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Astawan, M, Prof. Dr. 2008. Keunggulan Alumunium Foil & Logam. IPB Press. Bogor

Bachriansyah, S.  1997.  Identifikasi Plastik.  Makalah Pelatihan Teknologi Pengemasan Industri  Makanan  dan  Minuman,  Departemen Perindustrian dan Perdagangan : Bogor.

Bierley, A.W., R.J. Heat and M.J. Scott, 1988, Plastik Materials Properties and Aplications. cations. Chapman and Hall Publishing, New York.

Herudiyanto, M. 2008. Pengemasan. Bandung: Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Padjajaran.

Suyitno. 1990.  Bahan-Bahan Pengemas. Yogyakarta: PAU, UGM.

Syarief R, dkk. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan. Bogor: Laboratorium Rekayasa Proses Pangan Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.

Baca juga: Laporan pengawetan kultur

 

Leave a Reply