Studi Kasus Etika Komunikasi Online

BAB I
STUDI KASUS

Berbicara mengenai etika berarti juga akan menyinggung masalah moral, karena pada dasarnya etika sangat berkaitan dengan moral. Istilah etika mempunyai dua pengertian, secara luas dan secara sempit.

  1. Etika dalam pengertian secara luas berasal dari bahasa Latin yaitu ethica yang berarti cabang filsafat mengenai nilai-nilai dalam kaitannya dengan perilaku manusia. Pada pengertian ini membahas apakah tindakannya itu benar atau salah, baik atau buruk. Etika bisa diartikan sebagai ; falsafah moral yang menunjukkan bagaimana seseorang harus bertindak.
  2. Sedangkan etika dalam pengertian secara sempit berasal dari bahasa Latin (etimologis) ”ethicus” atau bahasa Yunani ”ethicos” yang berarti himpunan asas-asas nilai atau moral (Onong, 1998: 164).

Komunikasi melalui media dalam prosesnya memerlukan etika dikarenakan komunikasi bermedia melibatkan banyak khalayak, baik sebagai komunikator maupun komunikan. Dalam perkembangan media massa saat ini yang begitu pesat dimana pengaruh media massa pada masyarakat demikian besar. Maka apa yang ditampilkan oleh media dapat di contoh oleh khalayak dari segala lapisan. Apalagi di era globalisasi ini dimana sudah tidak ada lagi batas-batas geografis yang menjadi penghalang maka etika dalam media mutlak diperlukan. Bayangkan jika tanpa etika, komunikasi sudah liar, mengabaikan aspek moral dan tidak bertanggung jawab.

Contoh Kasus yang Diambil

Contoh kasus yang akan penulis analisis adalah adanya akun facebook yang mengatasnamakan Seto Mulyadi. Pada akun Facebook yang asli terdapat data yang jelas dari pemilik akun. Alamat email yang benar, afiliasi dan alamat twitter semuanya milik tim dari kak Seto. Timeline berisi pendapat dan saran untuk anak Indonesia. Tidak ada status yang mengandung kekerasan dan kejahatan.

Akun facebook lain banyak yang menggunakan nama dan foto Seto Mulyadi tetapi tidak ada data sama sekali siapa pemilik akun, mengindikasikan akun palsu. Berisi kata-kata kasar dan guyonan yang tidak pantas. Pemilik akun seolah ingin menyebarkan nasehat kontroversional.

Penelitian menunjukkan bahwa media sosial begitu rentan dimanipulasi oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengatasnamakan orang lain. jika seseorang tidak berani menampilkan identitas aslinya wajar dan patut dicurigai maksud dari pemilik akun ini. Apalagi isi pesan yang disampaikan banyak dikutip oleh khalayak yang tidak tahu bahwa akun tersebut bukan dikelola oleh pemilik aslinya.

Selain itu pesan-pesan dari berbagai akun palsu tersebut dengan cepatnya menyebar dengan cara copy paste dari satu media sosial ke media sosial lainnya (diistilahkan dengan broadcast). Jelas ini merupakan pelanggaran etika bermedia dan berkomunikasi. Penggunaan nama dan foto tanpa seizin pemiliknya juga melanggar UU ITE pasal 28 ayat 1 & 2.

Akun palsu seto mulyadi

BAB II
ANALISA STUDI KASUS

Menjamurnya media sosial seperti Facebook, Twitter dan Path yang populer saat ini, tidak terlepas dengan kehadiran internet. Media sosial merupakan tempat atau sarana menghubungkan manusia untuk berinteraksi. Tidak dapat dipungkiri, media sosial digemari oleh masyarakat di Indonesia bahkan di dunia karena memiliki keunggulan berbeda dengan media massa lain seperti koran, radio, maupun televisi.

Dalam praktek komunikasi massa, banyak sekali yang harus dijadikan landasan etis. Contohnya seperti memiliki rasa tanggungjawab, menghormati hak-hak asasi dan kebebasan orang lain, berlaku sopan santun dan tenggang rasa. Menurut filosof S. Jack Odell dalam Amir (1999), “Sebuah masyarakat tanpa etika adalah masyarakat yang menjelang hancur.” Tanpa prinsip-prinsip etika mustahil manusia bisa hidup harmonis tanpa ketakutan, kecemasan, keputusasaan, kekecewaan, pengertian dan ketidakpastian.

Etika sangat diperlukan dalam komunikasi di media sosial. Menurut Nurdin (2004), etika menjadi salah satu “aturan” yang diharapkan bisa mewadahi atau menjadi tolak ukur dalam mengatur “pergaulan” antara media massa, masyarakat, dan pemerintah. Secara etimologis, menurut KBBI dalam Amir (1999) kata etika diartikan dalam tiga hal salah satunya etika merupakan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Pengertian tersebut menekankan etika komunikasi mengacu kepada pengertian bagaimana berkomunikasi yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di tengah masyarakat atau golongan tertentu. Kasus pada akun Seto Mulyadi menuai pro kontra dari banyak pihak terkait sanksi yang diberikan.

Sejalan dengan hal tersebut, contoh kasus pelanggaran etika komunikasi yang terjadi di masyarakat terlihat bahwa pesan yang disampaikan di media sosial akan berdampak besar dan dapat memicu sikap serta perilaku masyarakat menanggapi pesan tersebut. Untuk itu, harus ditanamkan kembali etika komunikasi yang baik di media soaial agar tidak terjadi lagi kasus pelanggaran etika di kemudian hari. Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan etika komunikasi di media massa seperti:

1. Penyampaian Pesan

Pesan-pesan yang mengalir di media sosial tidak selamanya diterima oleh komunikan atau penerima pesan secara baik. Tidak jarang komunikator atau pengirim pesan kurang memperhatikan hal-hal kecil yang justru berakibat fatal. Komunikator harus terlebih dahulu menunjukkan kepada siapa pesan tersebut akan diterima, apakah kepada anggota-anggota di media sosial atau ditunjukkan antarpribadi. Setelah itu, komunikator menentukan apakah pesan tersebut bersifat rahasia atau umum.

Banyak media sosial yang memberikan fitur pesan (message) dimana para pengguna bisa mengirim pesan kepada pengguna lain tanpa diketahui oleh anggota lain yang bergabung di dalam media sosial tersebut. Apabila pesan itu bersifat umum, komunikator harus memperhatikan pula bahasa yang digunakan agar tdiak menjadi pesan sampah (spam message).

2. Penggunaan Tutur Bahasa

Dalam berkomunikasi di media sosial harus jelas apa yang akan dikatakan agar bisa dipahami orang lain dengan jelas pula, tentu bagi penerima pesan yang mengerti bahasa. Memilih kata-kata yang tepat memerlukan etika tersendiri. Salah memilih kata juga melanggar etika dalam masyarakat, karena di Indonesia memiliki keragaman norma sosial yang berlaku dan belum tentu pula berlaku di Negara lain.

Permasalahan yang pernah terjadi pada banyaknya akun Seto Mulyadi adalah status-status yang ditulis oleh simpatisan yang beberapa kali menuai polemik dan kontoversi karena dianggap mencemakan nama baik kak Seto. Ada beberapa orang yang dengan lantang ikut menyindir Kids Jaman Now dengan tuduhan tuduhan yang tidak baik dan seolah kak Seto yang mengatakannya dengan bahasa yang tidak sopan.

Hukum tentang Penggunaan Nama Orang Lain

Pemakaian nama orang lain sebagai identitas di media sosial, dan menulis sesuatu yang dapat di salah tafsirkan sehingga orang lain akan menganggap sebagai tulisan publik figure yang dipalsukan merupakan pelanggaran terhadap etika komunikasi di media sosial. Jika dikaitkan dengan pasal-pasal dalam Undang-undang ITE Pasal 28 Ayat 1 “Setiap Orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik”.

Ayat 2 “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku,agama, ras, dan antar golongan (SARA)”.

Berdasarkan bukti dari akun facebook yang penulis paparkan di muka para pemilik akun yang menggunakan nama orang lain jelas memiliki maksud tertentu. Tidak menutup kemungkinan mereka mempunyai tujuan seperti menggiring opini publik tentang hal-hal buruk mengenai anak-anak jaman sekarang.

Mengacu pada Undang-undang ITE pasal 28, seharusnya para pemalsu akun di media sosial facebook dapat dijerat dengan pasal ini, asalkan yang meraas dirugikan melaporkan. Namun sepertinya si pemiliki akun yang asli merasa tidak perlu menggugat, mereka yakin bahwa masyarakat yang cerdas akan memahami. Biarkan waktu membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Komunikasi di media sosial sudah kehilangan etika. Mengacu pada teori Kenneth Burke yaitu Dramatisme. Terdapat dua konsep yaitu evil terms dan God terms. Evil terms berisi kata, kalimat yang kasar, tendensius, sedangkan God terms berisi kata atau kalimat yang sopan, menyejukkan, bermanfaat. Media sosial diibaratkan sebagai pentas drama yang didalamnya terdiri dari aktor-aktor baik yang protagonis, antagonis bahkan oppurtunis.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan analisa kritis dari akun facebook yang menjadi bahan telaah dalam makalah ini maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:

komunikasi di media sosial banyak melupakan etika dalam berkomunikasi. Media sosial seperti facebook dijadikan alat untuk menjatuhkan citra seseorang atau kelompok tertentu.

harus ditanamkan kembali etika komunikasi yang baik di media soaial agar tidak terjadi lagi kasus pelanggaran etika di kemudian hari. Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan etika komunikasi di media massa seperti:

1. Penyampaian Pesan

Pesan-pesan yang mengalir di media sosial tidak selamanya diterima oleh komunikan atau penerima pesan secara baik. Tidak jarang komunikator atau pengirim pesan kurang memperhatikan hal-hal kecil yang justru berakibat fatal. Komunikator harus terlebih dahulu menunjukkan kepada siapa pesan tersebut akan diterima, apakah kepada anggota-anggota di media sosial atau ditunjukkan antarpribadi.

Setelah itu, komunikator menentukan apakah pesan tersebut bersifat rahasia atau umum. Banyak media sosial yang memberikan fitur pesan (message) dimana para pengguna bisa mengirim pesan kepada pengguna lain tanpa diketahui oleh anggota lainnya. Apabila pesan itu bersifat umum, komunikator harus memperhatikan pula bahasa yang digunakan agar tdiak menjadi pesan sampah (spam message).

2. Penggunaan Tutur Bahasa

Dalam berkomunikasi di media sosial harus jelas apa yang akan dikatakan agar bisa dipahami orang lain dengan jelas pula. Tentu bagi penerima pesan yang mengerti bahasa. Memilih kata-kata yang tepat memerlukan etika tersendiri. Salah memilih kata juga melanggar etika dalam masyarakat. Hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki keragaman norma sosial yang berlaku dan belum tentu pula berlaku di Negara lain.

Leave a Reply