Erosi dan Abrasi – Pengertian & Pencegahan

Perubahan lingkungan fisik cepat atau lambat akan membawa dampak terhadap daratan. Erosi dan abrasi adalah contoh perubahan lingkungan fisik yang memberikan dampak tersebut. Lalu, apa itu erosi dan abrasi? Bagaimana cara pencegahannya? Kali ini, kita akan membahas pengertian, perbedaan, dan pencegahan erosi dan abrasi.

Erosi dan Abrasi

1. Erosi dan Pencegahannya

Zaman dahulu, jumlah penduduk di bumi belum sebanyak sekarang. Pada saat itu, bumi lebih banyak dihuni oleh tumbuhan. Namun, seiring berjalannya waktu, pertumbuhanpun berubah. Jumlah makhluk hidup selain tumbuhan semakin bertambah, termasuk manusia. Karena membutuhkan pemukiman / tempat tinggal, manusia menyingkirkan tumbuhan-tumbuhan dan menebanginya.

Selain digunakan sebagai tempat tinggal, penebangan pohon juga dilakukan sebagai lahan pertanian, bahan bangunan, dan pabrik-pabrik. Disadari atau tidak, kegiatan tersebut merusak kondisi alam dan menyebabkan hutan menjadi gundul. Hutan yang gundul akan menyebabkan terjadinya erosi.

Apa itu erosi? Erosi adalah pengikisan tanah yang umumnya disebabkan oleh air. Jika tanah gundul, erosi mudah sekali terjadi. Saat tidak ada tanaman di atas tanah, tidak akan ada yang menahan air saat terjadinya hujan. Hal ini menyebabkan tanah lapisan atas akan terbawa oleh air hujan tersebut.

Erosi harus dicegah, karena jika terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan tanah menjadi tandus dan gersang. Tanah yang tandus dan gersang jadi tidak dapat ditanami tumbuhan lagi. Apa akibatnya jika tanah tidak dapat ditanami lagi? Tentunya hewan dan manusia bisa kehilangan bahan makanan. Karena tumbuhan adalah salah satu sumber makanan.

Tahukah kamu cara mencegah erosi? Berikut beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mencegah erosi:

  1. Membuat terasering/sengkedan pada tanah yang miring.
  2. Tidak menebang pohon secara liar.
  3. Mengadakan reboisasi di tanah-tanah yang gundul.
  4. Mengadakan hutan lindung di lereng-lereng gunung.

Pengertian Terasering:

Terasering adalah petak-petak sawah bertingkat yang dibuat berurutan pada lereng pegunungan atau tanah miring. Tujuan pembuatan terasering adalah mengurangi panjang lereng dan membuat lahan pertanian menjadi lebih landai, memperlambat atau meniadakan aliran air permukaan sepanjang lereng, mencegah erosi, serta memperbanyak air yang meresap ke dalam tanah.

Bentuk terasering yang sering dijumpai adalah guludan dan bangku. Teras bangku biasanya dibuat pada lereng yang curam. Bentuk ini paling efektif untuk mencegah erosi. Terasering banyak dijumpai di daerah yang airnya berlimpah dengan curah hujan rendah. Misalnya di pulau Jawa dan Bali.

2. Abrasi dan Pencegahannya

Selain erosi yang umumnya terjadi karena air hujan, pengikisan tanah juga dapat disebabkan oleh gelombang air laut. Pengikisan tanah yang disebabkan oleh gelombang air laut ini disebut abrasi. Apa penyebab abrasi? Abrasi banyak disebabkan oleh kegiatan yang dilakukan manusia. Sebenarnya, alam sudah memberikan pelindung-pelindung alami pada pantai untuk menahan laju gelombang laut. Pelindung tersebut antara lain pohon-pohon dan batu-batu karang yang ada di sekitar pantai.

Namun, manusia banyak yang membangun gedung-gedung di pinggir pantai dengan cara menebang pohon-pohonnya terlebih dahulu. Akibatnya, gelombang air laut langsung menerjang bibir pantai. Hal ini diperparah dengan adanya perusakan batu-batu karang secara besar-besaran.

Lalu, bagaimana cara mencegah abrasi? Cara mencegah abrasi adalah dimulai dari diri manusia itu sendiri. Antara lain :

  1. tidak membangun gedung-gedung di sekitar pantai.
  2. tidak menebangi pohon-pohon di sekitar pantai.
  3. mengadakan reboisasi pohon-pohon yang dapat tumbuh di sekitar pantai
  4. Tidak merusak batu-batu yang ada di sekitar pantai.

Nah, demikianlah pengertian erosi dan abrasi beserta perbedaan dan cara mencegahnya. Tentunya kita paham bahwa perubahan kenampakan bumi kebanyakan terjadi karena perubahan manusia. Dengan tidak merusak alam saja, itu sudah membantu untuk mencegah kerusakan alam. Maka dari itu, mari jaga alam kita sebaik mungkin.

 

Sumber: Buku IPA SD Kelas IV Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional 2008.

Leave a Reply